
Kau pengabadian inspirasiku, tepat di sudut hatiku. Aku tinggal menuliskan rasa yang tak habis-habisnya mendera. Sungguhpun begitu masih jauh kata-kata ini sempurna terhadap kebenaran rasa. Karena ia terus tumbuh dan tumbuh!!
Thursday, January 25, 2007
dapatkah

teramat dalam
tak sadar perasaan memberontak dalam gejolak
gelombang rasa di jiwa terbenam di antara ragu
buaian kasih akan rasa sayang terasa membelenggu
nyata dan tak dinyana ku telah terbalut dalam rindu
tatkala aku tak lagi bisa tak segera melupa
sekilas bayanganmu terasa dekat menatap wajahku
pelan hanyutku menyertai hari dan malamku
entah kenapa tak bisa lepas dari alam pikiran
menghantui dan membayangi setiap detik yang berlalu
bisikan kata hati menuntun diri penuh ambisi
dan aku tak peduli akan segala yang
biarlah kunikmati yang ada hari ini
mungkin esok
telah membuat jiwa petualanganku memburu sebuah misteri
antara hitam yang pekat terasa tajam menusuk sukma
akupun terhanyut dalam ketenangannya
dan akupun terbakar di keteduhannya, teramat dalam
rembulan
melayang dalam ingatan
ketika cinta jatuh di rembulan
tampak dirimu dalam bayangan
tanpa suatu kepastian
aku melangkah tanpa tujuan
mengikuti rembulan malam
yang semakin pudar ditelan alam
Air Tawar, 23 September 93
20 mei, awal pagi
Diantara keinginan yang masih terkekang oleh kenangan akan masa lalu.
Dan apakah yang akan kucapai di awal pagi ini, semua terpulang lagi pada diriku sendiri.
Aku terkesan hidup serasa menghabiskan waktu diantara banyaknya waktu yang (masih) kudapatkan.
Nyata aku terperangkap oleh jebakan masa lalu yang kuat membelenggu akal dan pikiranku, mental dan perasaanku.
Aku tercipta oleh ego-ego yang membangkitkan amarah dalam pertengkaran menuju suatu kehancuran kepribadian yang bahkan belum terpoles.
Namun bagaimana aku kan turut membaginya bila nyata sejak dahulu memang tidak pernah kudapatkan.
Aku tidak akan menyesali semua yang telah terjadi, aku hanya ingin bisa berubah walau untuk diriku sendiri.
Aku tidak akan pernah menyalahkan walaupun dalam hatiku keperihan itu selalu ada, dan aku percaya rasa kasih sayang itu pasti ada untukku.
Aku cuma ingin bisa menjadi diriku sendiri lagi, walau sulit mengubah telah terpatrinya kepahitan di dalam hatiku.
Akupun tidak pernah untuk tidak menyayangi, mencintai karena walau bagaimanapun aku adalah bagian dari kalian, aku ada karena kalian.
bulan jatuh
temaram membelah bintang ke ujung
lambat kabut merendah menyelimuti
hangatku besertamu sirna kemarin lalu
kini tubuh dingin sendiri
bulan jatuh sepotong
bayangan flamboyan mengusik pancaran cahya
tenang suara sungai susuri bebatuan
ingatku bersamu lenyap di tiup bayu
kini pikir hampa sendiri
bulan jatuh sepotong
bayangan putih kabut makin memekat
kicau burung kicau kepulangan
kenanganku akanmu terbang melayang
kini hati kosong sendiri
cinta langit
tapi apa daya aku takut ketinggian
kupandangi setiap ada kesempatan
namun leherku terasa pegal-pegal
kubaringkan tubuh mengintipmu
namun itu membuatku tertidur
dan bermimpi…
bahwa pada suatu saat
langitlah yang datang padaku
sehingga membuat aku terjepit dan sesak
antara langit, aku dan bumi
aku begitu sesaknya
hingga kumaki-maki langit yang menghimpitku
kubentak bumi yang mendorongku
dengan penuh amarah
begitu kubangun…
aku telah kehilangan keduanya.
Air Tawar, 20 April 01
Tuesday, January 23, 2007
gejolak

Kuakui aku lelah ‘tuk mencoba agar bisa melupakanmu, walau ingatanku padamu adalah kelukaan. Namun tetap saja cinta itu lebih besar menyelimuti segala rasa.
Perasaanku terasa terombang-ambing dalam segala rasa yang muncul secara bersamaan, saat dimana kemarahan terasa memuncak namun kerinduan bergelora, saat luka terasa pedih namun harapan tetap mendidih, saat kebencian melanda hati namun cinta itu bagai gejolak mencari.
cobalah terbuka
Terkuncikah semua pintu. Tertutupkah semua jendela. Bahkan celah-celah sekecil apapun untuk aku mengintip, mencoba mencari tahu dan ingin lebih mengerti tentang semua kegelapan ini yang tercipta karena pudarnya rasa yang ada tentang rasa percaya, kasih dan cinta.
Terkuncikah…
Hilangkah sedikit cerita yang tercipta. Yang adalah kelahiran dari kenangan hari ini. Atau engkau mencoba menyimpan dan enggan membuka mulut saat engkau rasa itu sia-sia dan penuh kecewa. Di mana kita berjalan, tiap hitungan waktu adalah sejarah dan jangan malu belajar dari sejarah.
Hilangkah…
Masihkah noda-noda yang ada meninggalkan bekas yang tak hilang dan terus menghantui sejuta pikiran tatkala mimpi itu kau resapi sendiri, suram dan melelahkan. Mencoba sembunyikan sendiri karena jeritan hati tiada seorangpun yang ‘kan mendengar, namun desahan nafasmu jelas berkata lain… ia terus bercerita.
Masihkah…
kita harus memilih
Janganlah memutuskan sesuatu tanpa jauh melihat ke depan karena jalan esok adalah awal kita melangkah hari ini. Kita tak mesti memotong jalan ataupun mencoba jalan pintas karena kadang ketersesatan itu datangnya begitu mudah. Karena itu lalui saja jalan-jalan biasa dalam mencapai tujuan.
Ketenangan dalam bertindak adalah cahaya untuk mengintip rambu-rambu dalam hidup ini. Dan kecermatan dalam membaca tanda-tanda itu adalah jembatan menuju penyeberangan jiwa di mana ego dan kedewasaan ‘
Memang setiap kita mempunyai kekurangan, karena tidak ada manusia yang sempurna. Namun kitapun di beri kelebihan, talenta-talenta untuk mengikis kekurangan kita. Jika kita dapat memanfaatkan kelebihan kita niscaya segala kekurangan lambat-laun akan tersingkirkan, namun jika kita mengabaikan kebihan kita, percayalah kekurangan itu akan semakin nyata.
Dan untuk itu kita harus memilih.
maafkanku diriku
Kini aku terkesima, terkejut bahwa semua itu tidak mempengaruhi keberadaanku. Aku masih di sini di tempat yang sama dari tahun-tahun lampau di mana sekarang sekelilingku telah berubah menjadi asing tiada kukenali lagi.
Ke manakah kemauan pergi… atau adakah aku cuma bermimpi bahwa ternyata aku kehilangan terhadap diri sendiri, suatu kendali tentang harga diri ataukah kepercayaan diri. Memang aku telah lupa diri…
jauh di sudut

Gambaran masa lalu, masa silam adalah gambaran masa suram tatkala kenangan yang kuingat adalah sebatas lalu yang terputus-putus memberi kedewasaan pada jiwaku yang kurus, lemah dan tiada pernah penuh.
Aku jatuh sebagai embun di mana kuatnya cahaya mentari tak kuasa ‘tuk kutatap. Aku berderai, memecah dalam sunyi tanpa teriakan saat ku terhempas ke bebatuan, keras dan sombong.
Kucoba mengalir, coba lalui dengan apa adanya. Aku menghilir mengikuti arus yang terus membawaku entah ke mana. Ku tak kuasa melawan, ku tak kuat berontak karena memang kecongkakan itu begitu dalam menusuk jiwaku. Aku bagai terikat, kaki dan mulut. Ku tak kuasa melangkah dan bicara, aku telah menjadi cacat jauh di sudut otakku.
Aku mencoba lepas, mengeliat walau tanpa tenaga. Aku mencoba bicara, berteriak walau tanpa suara. Dan jauh di relung hatiku, aku masih punya sedikit harap dan itu ‘kan selalu kujaga… Akan selalu kujaga.
kenangan akan hujan
Bunyi air jatuh menjadi irama yang panjang,
membawa diri pada kenangan yang hampir hilang
Dan lagi-lagi hujan ini setia untuk mengingatkan
Sesaat pikiran ‘
karena memang sejarah itu takkan terlupakan
Sejarah kelukaan yang kubasuh sepanjang jalan,
dalam dingin memikul sekeranjang penyesalan
Aku menyerah…
engkau kesepianku
sementara belantara hati dambakan sejuknya embun
semenjak kegersangan terselimuti kabut putih nan pekat
tak mau ia pergi, bergelayut, bergelantungan erat dan kuat
Patutkah aku lari dari padang rumput ini,
yang kadang memberi kesejukan, namun terkadang aku tersesat
Engkau memberiku kesepian,
sejak bintang-bintang yang kita pandang sepanjang jalan
kini aku hitung sendirian
Adalah waktu lalu ingin lebih kuresapi,
ingin lebih kuresapkan ke dalam hatimu
bahwa sementara kesempatan itu ada harus kuraih sebaik-baiknya, seindah-indahnya
agar keraguan itu tiada dan kurengkuh hatimu seutuhnya, seutuhnya
Dan kini kekosongan itu membuatku seperti tiada arti.
Air Tawar, 28 Agust 01
cintakah
aku rasa itu bukan cinta, itu hanya penipuan perasaan
membuat apa yang terasa seperti getaran-getaran cinta
Tapi apakah semua orang tahu rasa cinta itu ?
aku sendiri sering mencoba mencari tahu, sering ingin merasakan
tapi aku tak tahu kapan aku jatuh cinta, pernahkah aku jatuh cinta
Dan apakah aku mencintaimu ?
Jika cinta itu adalah suatu perhatian dan keinginan melalui waktu dalam kebersamaan, aku rasa aku memang mencintaimu
Tapi jika cinta adalah suatu ikatan, tuntutan agar melalui kebersamaan dalam keengganan memberi kebebasan, aku rasa aku tak pernah mencintaimu…
tentukanlah dari awal
bentuklah segala keinginanmu menjadi suatu kebulatan tekad bahwa engkau memang mampu untuk meraihnya
Tidak masalah impianmu serasa muluk ataupun terlalu tinggi,
itu artinya engkau mempunyai rasa percaya terhadap dirimu sendiri dan membangkitkan semangat untuk menjadi lebih
Kita harus punya tujuan hidup bukan semata menjalani hidup,
dan jangan takut terhadap perubahan karena memang tujuan itu kadang perlu proses yang pelik, untuk itu jangan pernah kenal dengan kata putus asa dan menyerah
ciptakan di awal langkahmu suatu jalur yang telah tersketsakan dalam arah yang benar tentang segala sebab akibat, tentang pertalian antara kemauan dan kemampuan
Tiada pula keraguan sekali-kali mematahkan asa yang ada, jika kepenuhan pada pemikiran telah mematangkan segala tindak tanduk yang akan bermuara kepada kearifan terhadap diri sendiri.
Dan jangan pernah membohongi dirimu sendiri, mendustai kata-kata yang terlahir dari lubuk hati. Ikutlah kata nuranimu, tidak lebih…
seperti hujan
karena hujan yang turun telah membasuh namamu dari jendelaku yang lusuh dan kotor
Sekarang hujan membawa kenangan lain,
kenangan yang mestinya harus kudapatkan walau bukan dari dirimu
Kenangan itu tergenang di halaman rumahku, terus menitik membasahi segalanya
Hujan yang memberi kedinginan, sudikah aku menerima kesepian…
Karena memang seharusnya lebih ada yang dominan agar ketergantungan itu selalu ada dan dari sanalah bisa terjadinya hubungan yang berketerusan bukan saling melepas dan membuat ikatan.
Maka tiap kali hujan turun tiap kali pula kuberharap bisa seperti hujan, selalu mencurahkan segalanya walaupun tidak diharapkan
Karena memang cinta datang karena telah biasa, seperti musim hujan ini yang lambat laun mulai kurindui setiap bunyi tetesnya di atap rumahku…